Arsip Tag: Narkoba

POLICE CONSIDERED TOO Arogant AND DAMAGING raided BD WHEN IN THE VILLAGE OF WOOD ISLAND ARO

Muaro Jambi
Penggrebrekkan airports Drugs in the village of Pulau Kayu Aro District of Sekernan Muaro jambi by the Police of the initials BD Jambi on Thursday morning (16/06) rated Kartini (60), BD-law too arogant. According to him, the incident made him have lost money savings for Hajj worship for 10 years.

Added by Kartini, their homes destroyed part of it due to the capture of BD by the police. “Because you want to get evidence of my house were uprooted. This is my house, not a home Budi. Why did the police bring property and damage to the contents of my home,” he described.

After the arrest of BD, the police also brought a number of belongings. Like, one car, a gold necklace 10 tribes or 30 grams, and money around Rp15 million savings for the pilgrimage. “BD Affairs is not my concern. The treasures were taken not belong BD,” he regrets.

In addition, a very regrettable Kartini that the police also took his son who is the wife who was not involved BD drug problems. For he was to have a new Toddlers aged two months. “Pity my grandson. Do not want to eat other than breast milk, his mother. The police should not do so brutal that,” lid. ** 007 **

POLISI DINILAI TERLALU AROGANT DAN PERUSAK KETIKA PENGGEREBEKKAN BD DI DESA PULAU KAYU ARO

MUARO JAMBI
Penggrebrekkan bandar Narkoba di Desa Pulau Kayu Aro Kecamatan Sekernan Kabupaten Muaro jambi oleh Kepolisian Daerah Jambi terhadap inisial BD, Kamis dini hari (16/06) dinilai Kartini (60), mertua BD terlalu arogant. Menurutnya, dengan kejadian tersebut membuatnya harus kehilangan uang tabungan untuk ibadah hajinya selama 10 tahun.

Ditambahkan oleh Kartini, rumahnya hancur bagian dalamnya akibat penangkapan BD oleh pihak kepolisian. “Karena ingin mendapatkan barang bukti rumah saya diobrak- abrik. Ini rumah saya, bukan rumah Budi. Kenapa polisi membawa harta benda dan merusak isi rumah saya,” ulasnya.

Usai penangkapan BD, polisi juga membawa sejumlah barang miliknya. Seperti, satu unit mobil, kalung emas 10 suku atau 30 gram, dan uang sekitar Rp.15 juta tabungan untuk ibadah haji. “Urusan BD itu bukan urusan saya. Harta benda yang dibawa bukan milik BD,” sesalnya.

Selain itu, yang sangat disesalkan Kartini yakni polisi juga membawa anaknya yang merupakan istri BD yang tak terlibat masalah Narkoba. Sebab anaknya sedang memiliki Balita yang baru berumur dua bulan. “Kasihan cucu saya. Tak mau makan selain ASI ibunya. Polisi seharusnya tak berbuat sebrutal itu,” Tutupnya.**007**

2 BANDAR NARKOBA BERHASIL DIAMANKAN POLRESTA JAMBI ( 2 DRUGS SUCCESSFULLY SECURED POLICE RESORT CITY of JAMBI )

Kota Jambi_RESKRIM

Dua bandar narkoba Kota Jambi berhasil diringkus oleh Sat Resnarkoba Polresta Jambi. Dua orang yang berhasil diamankan itu adalah Joko Winarto alias Joko (45) warga RT 16 Kelurahan Wijayapura Kecamatan Jambi Selatan, dan Fery Setiawan alias Fery (40) warga RT 16 Kelurahan Beliung Kecamatan Kotabaru Jambi.

Mereka diamankan pada tempat yang berbeda. Seperti Joko yang ditangkap dirumah pribadinya. Sementara Feri diamankan saat hendak melakukan transaksi dengan pelanggannya.

Kapolresta Jambi, Kombes Pol Drs Kristono melalui Kasubag Humas Polresta Jambi ,AKP Sri Kurniati menegaskan, ditangkapnya Joko berkat informasi dari masyarakat yang mana dirumah tersebut sering dijadikan tempat pesta dan transaksi narkoba. Bahkan hampir setiap malam aktifitas penghuni rumah selalu membuat resah warga.

Merasa kenyamanan telah diusik Joko Cs, wargapun melapor ke polisi. Mendapat informasi tersebut, pihak anggota Opsnal team II Sat Resnarkoba Polresta Jambi langsung menelusuri informasi itu. Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya petugas yang turun langsung menggerbek rumah dan mengamankan Joko beserta beberapa paket narkotika jenis ganja.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Joko mengakui bahwa barang haram itu didapat dari Fery Setiawan alias Fery (40) warga RT 16 Kelurahan Beliung Kecamatan Kotabaru Jambi. Kata Joko, sebut Sri, rekannya Fery akan melakukan transaksi narkoba diwilayah simpang III Sipin.

Berbekal informasi itu, petugas langsung turun kelapangan. Alhasil, setelah empat jam mengintai, akhirnya pelaku berhasil diciduk dan dibawa ke Polresta Jambi.

Dari tangan Fery, petugas berhasil mengamankan satu paket besar narkotika jenis Ganja yang disimpan dibawah jok motor honda beat.

“Keduanya saat ini telah diamankan, dan mereka mengakui jika barang haram itu milik mereka,” tegas Sri Kurniati.***Harvery***


Jambi City_RESKRIM
Two drugs the city of Jambi successfully diringkus by Police Drug Unit Reserse resort town of Jambi.Two people who successfully secured it was Joko Winarto alias Joko (45) citizens of RT 16subdistricts of Jambi Selatan Subdistrict, Wijayapura and alias Setiawan Ferry Ferry (40) citizens ofRT 16 subdistricts of Jambi Jayapura Subdistrict Pickaxe.
They secured at different places. As He captured his personal home. While the ferry be securedwhen need to do transactions with its customers.
Chief of police resort town of Jambi, Commissioner of police of Drs Kristono through Kasubag Publicist Polresta Jambi, Assistant Commissioner of police. Sri Kurniati confirms Joko caught thanks to information from the community in which the home is often made into a place of parties anddrug deals. In fact almost every night the residents activity always make restless residents.
Feel the comfort of has diusik Joko wargapun Cs, to report to the police. Got that information, themembers of the Opsnal team II Sat Resnarkoba Polresta Jambi directly browse that information.After the investigation, the officer finally menggerbek down directly home and secure with a fewpackages of narcotics He kind of marijuana.
After examination, He acknowledged that it was haram goods obtained from the alias SetiawanFerry Ferry (40) citizens of RT 16 subdistricts of Jambi Jayapura Subdistrict Pickaxe. The word Joko, call Sri, his companion drug transaction would Ferry relic in simpang III Sipin.
Armed with that information, the clerk immediately spaciousness. As a result, after four hours oflurking, finally successful principals picked up and taken to Polresta Jambi.
From the Ferry, the clerk hands managed to secure a large package of cannabis type drugs storedunder the seat motor honda beat.
“Both have been secured, and they acknowledge that the illegitimate if the goods belong to them,” stated Sri Kurniati Harvery. *** ***

PETUGAS PERSEMAYAMAN RUMAH DUKA ABADI DILARANG BICARA DENGAN WARTAWAN ( GRIEF ABADI funeral HOUSE OFFICER NOT TALK TO JOURNALIST )

Rombongan jenazah terpidana mati, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, memasuki Rumah Duka Abadi pada, Rabu (29/04/2015) siang tadi.RESKRIM.Doc
Rombongan jenazah terpidana mati, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, memasuki Rumah Duka Abadi pada, Rabu (29/04/2015) siang tadi.RESKRIM.Doc

 


Jakarta_RESKRIM

Pada Rabu (29/04/2015) pagi tadi, penanggung jawab di Rumah Duka Abadi, Elvan, telah berpesan kepada insan pers agar tidak meliput di dalam rumah duka saat jenazah “Duo Bali Nine” tiba di lokasi. Hal tersebut disanggupi oleh segenap insan pers, yang akhirnya hanya menunggu di depan gerbang rumah duka Abadi sejak pukul 10.00 WIB.

Ketika rombongan yang membawa jenazah “Duo Bali Nine”, yakni Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, tiba di rumah duka, pengamanan oleh petugas semakin ketat.  Bahkan karyawan rumah duka langsung berinisiatif membuat pagar betis di depan gerbang dan mendesak segenap insan pers mundur ke belakang.

Hal itu memang dilakukan untuk mengamankan jalur masuknya mobil rombongan yang telah tiba sekira pukul 12.20 WIB. Hingga menjelang sekira pukul 15.00 WIB, dimana segenap insan pers masih menunggu di depan gerbang untuk melihat kondisi terkini.

Tempat Andrew dan Myuran disemayamkan tidak terlihat dari pintu gerbang. Segenap insan pers pun tidak tahu apakah keluarga para jenazah telah tiba bersama dengan rombongan tadi.

Pintu masuk menuju Rumah Duka Abadi sendiri ada tiga, termasuk dari gerbang depan. Sementara dua pintu lainnya berada di samping kiri dan kanan bangunan rumah duka.

Kedua pintu tersebut merupakan pintu masuk mengangkut barang-barang berat atau loading dock. Terdapat masing-masing satu sekuriti dan karyawan yang berjaga di dalam dua pintu itu. Beberapa kali ada tukang-tukang yang masuk melalui pintu tersebut untuk mengangkut beberapa barang.

Ketika petugas keamanan dan karyawan itu ditanya oleh segenap insan pers, mereka hanya bilang bahwa mereka dilarang berbicara.

“Kita enggak boleh ngomong sama yang bule-bule itu. Kita jalanin perintah saja,” tegas sekuriti bernama Wityanto.

Sementara di pintu samping lainnya lagi, petugas keamanan sama sekali tidak menggubris pertanyaan wartawan. Dia pun tidak mau melihat wartawan yang bertanya kepadanya dan langsung menutup pintu.***Anton.H***


Rombongan jenazah terpidana mati, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, memasuki Rumah Duka Abadi pada, Rabu (29/04/2015) siang tadi.RESKRIM.Doc
Rombongan jenazah terpidana mati, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, memasuki Rumah Duka Abadi pada, Rabu (29/04/2015) siang tadi.RESKRIM.Doc

Jakarta_RESKRIM

On Wednesday (4/29/2015) morning, the person in charge at the Eternal Funeral Home, Elvan, has advised members of the press that are not covered in the funeral home when the bodies “Duo Bali Nine” arrived on the scene. This was promised by all members of the press, which eventually just waiting in front of the gate of the house of mourning Abadi since 10:00 pm.

When the group that brought the corpse “Duo Bali Nine”, namely Andrew Chan and Myuran Sukumaran, arrived at the funeral home, increasingly stringent security officer. Even employees of the funeral home immediately initiated a posse in front of the gate and urged all members of the press backwards.

It was done to secure entry point car entourage had arrived approximately 12:20 pm. Until about approximately 15:00 pm, where all members of the press are still waiting in front of the gate to see the latest conditions.

Andrew and Myuran place buried out of sight of the gate. All members of the press did not know whether the families of the bodies have arrived along with the group earlier.

The entrance into the Eternal Funeral Home has three, including from the front gate. While the other two doors are on the left and right side of the building the funeral home.

The second door is the entrance carrying heavy luggage or loading dock. There are respectively one and employee security guard at the two doors. Some times there are craftsmen who enter through the door to transport some goods.

When the security guards and employees were asked by all members of the press, they just said that they were forbidden to speak.

“We don’t  be talking to the foreign tourist that. We run it commands only,” the security firm named Wityanto.

While on the other side door again, security officers completely ignored reporters’ questions. He did not want to see a journalist who asked him and immediately closed the door. *** *** Anton.H

DI RUANG PERSEMAYAMAN RODRIGO GULARTE TERPAJANG FOTO PARA TERPIDANA MATI NARKOTIKA ( IN THE PHOTO displayed GULARTE RODRIGO funeral, death row inmates NARCOTICS )

Rumah Duka St Carolus yang dihiasi foto-foto para terpidana mati, meski hanya Rodrigo Gularte yang disemayamkan di situ pada, Rabu (29/04/2015).RESKRIM.Doc
Rumah Duka St Carolus yang dihiasi foto-foto para terpidana mati, meski hanya Rodrigo Gularte yang disemayamkan di situ pada, Rabu (29/04/2015).RESKRIM.Doc

 Jakarta_RESKRIM

Rumah Duka St Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, menyiapkan Ruang Kristoforus untuk persemayaman jenazah terpidana mati Rodrigo Gularte pada, Rabu (29/04/2015). Jenazah warga negara Brasil tersebut dijadwalkan akan tiba pada malam nanti.

Di ruang yang serba putih itu, sebuah meja diletakkan di tengah ruang persemayaman. Di atasnya dipasang foto Rodrigo dan sebuah salib. Sementara , di dua meja di sisi ruangan dipajang foto-foto para terpidana mati lainnya, yang dieksekusi di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu dini hari tadi.

Ruang persemayaman juga disiapkan untuk misa saat jenazah Rodrigo tiba. Tampak kursi-kursi bertutup kain putih ditata dengan rapi.

Tinjauan langsung_RESKRIM ,  sekira pukul 11.30 WIB, rumah duka St.Carolus sudah mulai dipenuhi kerabat dan pendukung penghapusan hukuman mati. Sementara nampak terlihat, sebuah karangan bunga bertuliskan “RIP: You Are In A Better Place” dipasang di bagian tengah rumah duka tersebut. Tidak terlihat penjagaan aparat keamanan di rumah duka St.Carolus tersebut.***Anton.H*** 


Rumah Duka St Carolus yang dihiasi foto-foto para terpidana mati, meski hanya Rodrigo Gularte yang disemayamkan di situ pada, Rabu (29/04/2015).RESKRIM.Doc
Rumah Duka St Carolus yang dihiasi foto-foto para terpidana mati, meski hanya Rodrigo Gularte yang disemayamkan di situ pada, Rabu (29/04/2015).RESKRIM.Doc

Jakarta_RESKRIM

Funeral Home St Carolus, Jalan Salemba Raya, Central Jakarta, to prepare for the funeral corpse Space Kristoforus death row Rodrigo Gularte on Wednesday (04/29/2015). The body of the Brazilian citizen is scheduled to arrive in tonight.

The all-white room, a table placed in the middle of the funeral chamber. Rodrigo photograph mounted on it and a cross. While, in the two tables on the side of the room displayed photographs of other death row inmates, who were executed in prisons Nusakambangan, Cilacap, Central Java, on Wednesday early this morning.Space is also prepared for the funeral Mass when the bodies of Rodrigo arrived. Looks cloth-covered chairs neatly arranged white.

Overview langsung_RESKRIM, approximately 11:30 pm, the funeral home St.Carolus already filled relatives and supporters of the abolition of the death penalty. While evident and a wreath that read “RIP: You Are In A Better Place” is installed in the middle of the funeral home. Not seen guarding the security forces at the funeral home St.Carolus. *** *** Anton.H

SEPOTONG BROWNIES BERISI GANJA ( PIECE OF BROWNIES containing marijuana )

Jakarta_RESKRIM

Masyarakat pada masa kini diharapkan berhati-hati ketika mencoba membeli dan mengunyah makanan. pasalnya kemungkinan dengan apa yang Anda makan, bisa jadi mengandung bahan terlarang. Seperti yang baru saja terungkap belakangan ini.

Kandungan ganja ditemukan pada sepotong brownies. Hal ini merupakan modus baru bagi para pengedar narkoba untuk mengedarkan barang haram dan memberikan ‘virus’ tersebut kepada masyarakat.

Aksi kriminal tersebut terungkap saat Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap IR (38) dan komplotannya yakni OJ (21), AH (21), YG (23), dan HA (37) di toko tempat menjual brownies ganja itu di Blok M Plaza, Jakarta Selatan pada 10/04/ 2015.

Deputi Pemberantasan Narkotika BNN, Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim menegaskan, komplotan tersebut telah menjalankan bisnis penjualan ganja dalam brownies selama 6 bulan. “Ini modus baru yang dilakukan tersangka,” tegas Deddy di Gedung BNN, Jakarta Timur pada, Senin (13/04/2015).

Setelah menangkap para pelaku, petugas kemudian menggeledah apartemen IR di Kabupaten Tangerang, Banten. Mereka juga menyita 4 kilogram ganja, 4 loyang daun ganja yang siap dicampur dengan adonan kue, 12 tepung kue, mentega, iven, 14 cetakan kue, blender, mixer, timbangan, 3 kotak kue, dan 1 kotak cokelat.

“Mereka menjual secara online melalui website http://www.tokohemp.com. Website (laman) tersebut juga sudah kami blokir. Disamping hal  itu, mereka juga bisa memesan melalui telepon dan BBM (pesan singkat Blackberry),” ungkap Deddy.

Tidak hanya di Jakarta, IR dan kawananannya juga telah mengaku sudah memiliki konsumen tetap hingga di luar Ibukota. Beberapa kota besar juga sudah menjadi pangsa wilayah peredaran brownies ganja ini.

Pengungkapan ganja dalam brownies itu bermula saat ada laporan bahwa seorang anak tidak kunjung bangun tidur selama 2 malam setelah memakan brownies.

Menurut Deputi Pemberantasan Narkotika BNN ,Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim, kala itu, warga melaporkan anaknya tidur selama 2 malam tapi tidak kunjung bangun.

“Setelah diperiksa, pelajar SMP  tidur seperti itu , saat setelah makan brownies yang mengandung ganja ini,” tegas  Deddy.

Deddy menjelaskan, jajarannya lalu mengambil sampel brownies yang dimakan pelajar SMP itu. Ternyata, kue tersebut mengandung THC atau yang lebih akrab disebut ganja. “Efek ganja itu kebalikan dari sabu. Kalau ganja itu efeknya depresan, setelah mengkonsumi tenang dan ingin tidur,” papar Deddy.

Kepada polisi, pengendali komplotan ini, IR (38) mengaku membuat kue berbahan dasar ganja dan mengedarkannya karena merupakan obat HIV dan Hepatitis C yang diidapnya. Dia menganggap ganja sebagai obat untuk mengurangi efek HIV dan Hepatitis C. Lantaran khawatir mengonsumsi ganja dengan cara dibakar, dia pun mengubah ganja menjadi brownies.

“Saya ngerasa pakai ganja lebih baik dan kalau saya pakai rokok linting takut pergi ke luar rumah, akhirnya saya bikin dalam bentuk kue,” ujar IR.

Lama kelamaan, kue mengandung ganja yang dibuatnya banyak disukai teman-teman IR. Kebetulan, sang teman mengidap penyakit yang sama dengannya. “Karena saya merasa dia senasib dengan saya, saya juga merasakan manfaatnya, ya sudah saya jual saja,” aku dia.

IR mengaku biasanya menjual brownies ganja Rp 200 ribu per boks. Tiap boks berisi 20 buah kue kecil berbentuk hati dan bunga. Selain menjual di toko kawasan Blok M Plaza, IR juga mengirim kue ganja buatannya ke beberapa kota besar di Indonesia.

Namun, dia tidak mau menyebut berapa keuntungan yang didapat dari penjualan brownies ganja itu. Yang jelas, dalam waktu 6 bulan dia bisa memiliki toko dan apartemen di Kabupaten Tangerang sebagai lokasi produksi kue.

Deputi Pemberantasan Narkotika BNN, Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim menegaskan, anggapan ganja dapat menyembuhkan penyakit adalah salah. Efek yang dirasakan IR hanya sesaat. “Dia tidak bisa menyembuhkan. Yang dirasakan itu semu, sesaat. Kecuali melalui resep dokter. Ini sudah masuk penyalahgunaan karena itu kita tangkap,” tegas Deddy.

Akibat perbuatannya, IR bersama 4 tersangka lainnya dijerat Pasal 111 ayat 2, Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.***Anton.H***


Jakarta_ Criminal
Society today is expected to be very careful when trying to buy and chew food. article of possibilities with what you eat, may contain banned substances. As has just been revealed recently.
The content of marijuana was found in a brownie. This is a new mode for the drug dealers to distribute illicit goods and provide a ‘virus’ to the public.
The criminal action was revealed when the National Narcotics Agency (BNN) captures IR (38) and his accomplice the OJ (21), AH (21), YG (23), and HA (37) in the store where it sells marijuana brownies in Blok M Plaza , South Jakarta on 10/04/2015.
Deputy of Counter Narcotics BNN, Inspector General of Police Deddy Elhakim Fauzi asserted, the gang has been running the business of selling marijuana in brownies for 6 months. “This is a new mode of the accused,” said Deddy on BNN Building, East Jakarta, Monday (04/13/2015).
After the arrest of the perpetrators, the officer then searched the apartment of IR in Tangerang, Banten. They also seized 4 kilograms of marijuana, marijuana leaf 4 pan ready mixed with cookie dough, 12 cake flour, butter, sporting, 14 cookie cutters, blenders, mixers, scales, three boxes of cookies, and 1 box of chocolates.
“They sell them online through the website http://www.tokohemp.com. Website (pages) are also our block. Besides that, they can also be ordered by telephone and BBM (Blackberry text messages),” said Deddy.
Not only in Jakarta, IR and kawananannya also been claimed to own the consumer remains up outside the capital. Several major cities have become the share of the region’s distribution of marijuana brownies.
Disclosure of marijuana in brownies began when there was a report that a child does not go to sleep for 2 nights awake after eating brownies.
According to Deputy of Counter Narcotics BNN, Inspector General of Police Deddy Fauzi Elhakim, at that time, residents reported his son to sleep for 2 nights but does not go wake.
“After review, junior high school students slept like that, when after eating brownies containing marijuana,” said Deddy.
Deddy explains, his staff took samples eaten brownies that junior high school students. Apparently, the cake containing THC or more familiarly called marijuana. “The effect was the opposite of methamphetamine marijuana. If marijuana depressant effect, once consumed calm and wanted to sleep,” said Deddy.
To the police, the gang control, IR (38) admitted to making a cake made from hemp and circulate it as an HIV and Hepatitis C drug diidapnya. He considers marijuana as a medicine to reduce the effects of HIV and Hepatitis C. Because the worry of taking cannabis by fire, he also changed the marijuana into the brownies.
“I feel better marijuana use and if I use rolled cigarettes are afraid to go outside the house, finally I made in the form of cake,” said IR.
Eventually, he made a cake containing cannabis much favored friends IR. Incidentally, the same friend with her disease. “Because I felt he was in the same boat with me, I also find it useful, so be it I sell it,” I am he.
IR admitted usually sell marijuana brownies Rp 200 thousand per box. Each box contains 20 pieces of small heart-shaped cake and flowers. In addition to selling in stores Blok M Plaza, IR also send a homemade pot pie to several major cities in Indonesia.
However, he did not mention how the profits from the sale of marijuana brownies. Clearly, within 6 months he could have a store and apartments in Tangerang as a production location cake.
Deputy of Counter Narcotics BNN, Inspector General of Police Deddy Elhakim Fauzi asserted, marijuana can cure disease assumption is wrong. IR perceived effect only for a moment. “He can not heal. The felt was apparent, for a moment. Except by prescription. It has entered the abuse because we perceive it,” said Deddy.
As a result of his actions, along with four other suspects IR charged under Article 111, paragraph 2, Article 114 paragraph 2 in conjunction with Article 132 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics, under penalty of death. *** *** Anton.H

BNN RIAU BERHASIL UNGKAP PEREDARAN NARKOBA DI LAPAS ( BNN RIAU DISTRIBUTION OF DRUGS IN SUCCESSFUL said prisons )

Jakarta_RESKRIM

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepulauan Riau berhasil mengungkap sindikat pengedar narkoba dari dalam Lapas Tanjung Pinang. Tersingkapnya tabir jaringan pengedar narkoba jenis ekstasi dan sabu itu, berawal dari sidak yang dilakukan tim BNN.

Dari hasil penggeledahan, ditemukan 2 gram sabu dan 60 butir ekstasi yang disembunyikan dalam sebuah bungkus rokok milik sipir berinisial YR. Disamping itu, ditemukan pula 2,5 gram sabu di kantong jaket YR.

NW menyebut nama salah satu penghuni Lapas Tanjung Pinang kelas IIA berinisial AK. Menurutnya, tahanan Lapas tersebut sehari-hari mengedarkan narkoba dari balik jeruji besi Tanjung Pinang. AK adalah narapidana kasus narkoba yang ditangkap Polresta Berelang atas kepemilikan 100 butir ekstasi pada 2012.

“Kami kembangkan, kemudian susun sebuah skenario penjebakan, tertangkap NW, dari dia kami kembangkan lagi,” ungkap Benny.

Untuk membuktikan keterangan NW, aparat akhirnya menjemput AK yang merupakan penghuni Blok E Nomor 4 di lapas tersebut. Di lorong menuju sel AK, petugas berpapasan dengan seorang napi lain bernama TD yang tinggal di Blok E Nomor 8. TD yang sedang berjalan tiba-tiba melempar bungkusan hitam ke bawah meja piket petugas.

Petugas yang mencurigai gerak-gerik tersebut segera memeriksa isi plastik hitam itu, dan mendapati isinya berupa sabu seberat 48 gram, 61,5 gram ganja kering, 2 timbangan digital dan satu bundel uang senilai Rp 15 juta.

“Saat kami mau ke AK, ketemu TD dengan gelagat mencurigakan, ternyata dia berupaya membuang barang bukti. TD mengaku biasa jual ke napi lain,” ungkapnya.

Dari hasil pengembangan BNNP, terdapat dua napi lain yang turut terlibat dalam perdagangan narkoba di dalam lapas. Namun, penggeledahan tersebut ditunda untuk mendinginkan situasi yang mulai panas karena petugas hendak diamuk warga binaan lainnya.

Akibat ulah mereka, keempat pelaku akan dikenakan Pasal 112 ayat 2 dan Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau hukuman penjara 20 tahun.***Anton.H***


Jakarta_RESKRIM

Provincial National Narcotics Agency (BNNP) Riau Islands uncovered syndicate of drug dealers in prison Tanjung Pinang. Unveiling the curtain network of drug dealers that kind of ecstasy and methamphetamine, originated from the inspection team conducted BNN.

From the results of a search, found 2 grams of methamphetamine and 60 ecstasy pills hidden in a cigarette pack belonging to the warden initials YR. Besides, also found 2.5 grams of methamphetamine in a jacket pocket YR.

NW mention the name of one of the occupants of class IIA Tanjung Pinang Prison initials AK. According to him, the prison inmates everyday distribute drugs from behind bars Tanjung Pinang. AK is the inmate drug cases Berelang Police arrested for possession of 100 ecstasy pills in 2012.

“We develop and arrange an entrapment scenario, caught NW, from him we developed again,” said Benny.

To prove the statement NW, officers finally picked AK which is occupants Block E No. 4 in the prison. In the hallway leading to cell AK, officers met with another prisoner named TD who lives in Block E No. 8. TD running suddenly throws black piping down the picket desk clerk.

The officer who suspects movements immediately check the contents of the black plastic, and found it in the form of shabu weighing 48 grams, 61.5 grams of dried marijuana, two digital scales and a bundle of money worth USD 15 million.

“When we want to AK, TD met with suspicious signs, it turns out he seeks to dispose of the evidence. TD ordinary admitted selling to other prisoners, “he said.

From the results BNNP development, there are two other prisoners who were involved in drug trafficking in prison. However, a search was postponed to cool the situation is getting hot because the officer was about battered by other inmates.

Induced them, four actors will be subject to Article 112 paragraph 2 and Article 114 paragraph 2 in conjunction with Article 132 paragraph 1 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics, with the threat of a death sentence or a maximum of 20 years imprisonment. *** Anton.H * **