Arsip Tag: IZIN

KADES BEREMBANG SESALKAN IZIN USAHA DIKELUARKAN TANPA REKOMENDASI

MUAROJAMBI_RESKRIM

 

 

 

Sekretaris Desa Berembang,Norman mengeluhkan adanya usaha galian C  di  RT 12 karena telah mengantongi izin dari Badan Pelayanan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu(BPPMPT),izin ESDM Provinsi dan ESDM Muarojambi. Sementara,pihaknya tak pernah mengeluarkan rekomendasi kepada M.Saleh Khisby selaku pemilik usaha,terang Norman ketika diminta keterangan di ruang kerjanya pada Kamis,17/11 kemarin.
Hal senada juga dilontarkan Kepala Desa melalui sekdes.
Lahan usaha galian C yang diperkirakan seluas 18,88 hektare kini telah mengantongi izin tanpa rekomendasi dari desa.
Mantan sekretaris tokoh gerakan pemuda Ansyor Kabupaten Muarojambi,Budi Saroni ketika dikonfirmasi pada Kamis,17/11 kemarin terkait tak adanya rekomendasi dari desa pada usaha galian C milik M.Saleh mengatakan,”saya sangat menyesalkan  atas hal itu,seharusnya pihak pemerintah lebih bijaksana dalam menentukan dan mengeluarkan izin khususnya galian C karena hal yang perlu diperhatikan adalah kawasan dan populasi. Seandainya punya izin tapi kawasan atau populasi terdapat pemukiman masyarakat,tentunya kelak masyarakat juga yang menjadi korban khususnya  masyarakat yang berada  di daerah aliran sungai(DAS),Akibat abrasi maka pemukiman masyarakat akan hancur dan musnah.
Lebih lanjut dikatakannya,saya meminta  kepada Pj Bupati untuk meninjau kembali semua usaha berikut izinnya dan memperhatikan dengan serius dampak yang akan ditimbulkan,jika dampaknya negative,kenapa harus dipertahankan dan diizinkan,tutupnya.(Harvery)

Iklan

KEPALA DESA TEBAT PATAH MUARO JAMBI IZINKAN USAHA PENYEDOTAN PASIR DI KAWASAN CAGAR BUDAYA


IMG_20160521_133621
ALAT KECIL PENYEDOT PASIR DITAMBATKAN DIPINGGIR SUNGAI BATANGHARI.RESKRIM.DOC

MUARO JAMBI,TEBAT PATAH
Kepala Desa Tebat Patah Kabupaten Muaro Jambi,Taufiq AS ketika dikonfirmasi pada Sabtu,21/05/2016/12.37WIB terkait usaha penyedotan pasir di Desa Tebat Patah yang merupakan salah satu kawasan cagar budaya situs candi muaro jambi mengatakan,”dirinya menolak mengizinkan usaha tersebut pada awalnya namun setelah diadakan musyawarah desa,masyarakat mengambil keputusan untuk tetap menjalankan usaha penyedotan pasir meskipun kepala desa telah mendengar adanya edaran yang mengatakan bahwa ada 8 desa yang masuk kategori kawasan cagar budaya. Bersamaan ditambahkannya,bahwa ketua Badan Permusyawaratan Desa(BPD),Bujang Alamin Alias Bujang Belur bersedia menjamin dan bila ada wartawan,LSM dan pihak Penegak hukum menanyakan perkara penambangan pasir,silahkan hubungi dia dan menemui beliau,imbuhnya kepada Insan pers pada Sabtu,21/05/2016. Kesepakatan tersebut dibuat dalam suatu berita acara yang ditandatangani oleh kepala desa serta dibubuhkan stempel dengan alasan adanya kontribusi dari pihak perusahaan,sebutnya.

Sementara di dalam Peraturan Pemerintah nomor 32 Tahun 2009 pasal 47 menjelaskan,”Pasal 47 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan manusia wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.
Ketika ditanyakan lebih lanjut ternyata di Desa Tebat Patah terdapat alat besar yang menyedot pasir dengan kapasitas penyedotan perhari sekitar 1000 kubik. Usaha tersebut diurus oleh masyarakat Desa Tebat Patah bernama Mirin dan Bujang Alamin Alias Bujang Belur. Selanjutnya hasil penyedotan berupa pasir tersebut menurut pengakuan Kepala Desa,Taufiq AS dikirim ke Provinsi lain. Pemilik usaha penyedotan pasir kapasitas besar tersebut adalah milik PT Naga Cipta Central yang beralamat di Jalan Yos Sudarso nomor 168 Kecamatan Taman Rajo Kabupaten Muaro Jambi 36419. Pemilik dipanggil dengan nama aso dan Rudi.
Diindikasi PT Naga Cipta Central diduga telah mengeksploitasi pasir di Sungai Batanghari yang dimulai dari tahun 2002,menurut pengakuan Mirin ,”wah,sudah lama dilakukan sebelum mengetahui daerah kawasan cagar budaya,pungkasnya.**Har***

VILLAGE HEAD OF TEBAT PATAH Muaro suction ALLOW BUSINESSES IN THE SAND RESERVE CULTURE

Muaro JAMBI, TEBAT PATAH
Broken dam Village Head Muaro Jambi, Taufiq US when it was confirmed on Saturday, 21/05/2016 / 12.37WIB related efforts sand suction Broken dam in the village which is one of the heritage area of the temple site Muaro jambi said, “he has refused to allow the business at first but once held village meetings, the community took the decision to keep the business running vacuuming sand although the village head has heard their circular which says that there are eight villages in the category of cultural heritage area. Simultaneously he added, that the chairman of the Village Consultative Body (BPD), Bujang Alamin Alias Bujang Belur willing to guarantee and if there are journalists, NGOs and law enforcers ask the court for sand mining, please contact him and see him, he said to Insan the press on Saturday, 21 / 05/2016. The agreement was made in an official report signed by the head of the village as well as the stamp affixed by reason of the contribution from the company, he said.

While in Government Regulation No. 32 Year 2009 Article 47 explains, “Article 47 (1) Every business and / or activities that could potentially have a significant impact on the environment, threats to ecosystems and life, and / or human health and safety shall analyze environmental risks.
When asked further turns TEBAT PATAH in the village there is a great tool that suck the sand with a suction capacity of about 1000 cubic per day. The business is taken care of by the villagers of Broken dam named Mirin and Alias Alamin Bujang Bujang Belur. Furthermore, the results in the form of sand suction according recognition village chief, US Taufiq sent to another province. Business owners suction sand large capacity is owned by PT Central Cipta Naga is located at Jalan Yos Sudarso 168 number Subdistrict Regency Park Rajo Muaro 36419. owner called by name and Rudi aso.
Indicated PT Central Cipta Naga allegedly been exploiting sand in the Batang Hari River starting in 2002, according to the confession Mirin, “wah, was long before knowing local heritage area, he concluded. ** Har ***